Kamis, 31 Mei 2012

Chloe Clover - 25


Rumah duak terlihat ramai dipenuhi dengan keluarga dan tetangga Richard yang akan menghantar kepergiannya. Chloe datang terlambat, ia tidak sempat untuk melihat jenasah Richard untuk terakhir kalinya. Sambil terus menangis terisak-isak Chloe bertemu dengan kakak perempuan Chloe.
“Chloe?” sapa kakaknya dengan heran.
“Iya kak aku tau dari bi Onah, Richard sakit apa kak? Kok gak ada yang berusaha untuk beritahu aku?” jawab Chloe sambil terus menangis.
“Richard ngelarang aku buat kasih tau.”
“Richard sakit apa kak?”
“Sebenarnya dia menginap kanker otak udah stadium akhir. Ini kado terakhir buat kamu dari Richard,” ujar kakak Richard sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna pink yaitu warna favorite Chloe.
Kakak Richard langsung meninggalkan dirinya yang sedang berusaha melihat isi kotak dari Richard sebagai hadiah terakhirnya. Tiba-tiba seorang wanita cantik berambut panjang menghampiri Chloe.
“Kamu yang namanya Chloe Clover ya?”
“Iya, kamu siapa ya?”
“Aku teman dekatnya Richard. Richard banyak cerita semuanya tentang kamu. Sebenarnya Richard masih sayang banget sama kamu, dia sebenarnya gak mau ninggalin kamu hanya saja penyakitnya yang membuat dia harus meninggalkan kamu. Dia gak mau lihat air mata orang yang dicintainya untuk jatuh hanya karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.”
“Tunggu, kayaknya kau pernah liat kamu sebelumnya? Tapi aku lupa dimana.”
“Mungkin di pesta ulang tahun Tara. Soalnya aku pernah liat kamu disana.”
Pikiran Chloe segera meluncur ke ingatan masa lalunya beberapa bulan yang lalu. “Oh iya, kamu bukan pacar baru Richard?”
“Bukan, aku memang pernah suka sama Richard sejak dia pacaran sama kamu. Tapi aku sadar dia sangat mencintai kamu tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu dihatinya. Aku hanya kebetulan kenal dengan Tara oleh karena itu aku minta Richard untuk ikut datang menemani.”
Sebuah rahasia sekaligus misteri yang selama ini bersarang didalam tubuh Chloe mulai terungkap menjadi sebuah kenyataan yang pahit. Chloe bagaikan mayat hidup, tidak dapat berpikir dengan baik dan juga tak mempunyai banyak tenaga untuk beraktifitas. Kenyataan yang pahit seolah menggerogoti tubuhnya hingga ia menjadi seperti mayat hidup.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar