Jumat, 04 November 2011

Kebodohan


Banyak yang berkata kalo manusia itu tidak ada yang bodoh, yang ada adalah manusia itu malas. Itu memang benar, tapi dalam konteks intelegensi. Tapi bodoh yang saya maksud sendiri itu dalam bentuk umum dan pola pikir.
Sering sekali saya membaca di surat kabar atau melihat berita di televisi ada seorang pria/wanita tewas bunuh diri. Ntah itu gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, dsb. Bahkan, mungkin ada orang yang takut rasa sakitnya bunuh diri dengan cara-cara yang saya sebutkan tadi, mereka bunuh diri dengan cara nonton film komedi dan berharap mati karena tertawa. Bodoh kan? Menurut saya tidak, tapi lebih tepatnya bodoh sekali !
Tapi tingkat kebodohannya itu sendiri bisa di ukur dari modus tiap individunya. Menurut saya yang paling bodoh itu bunuh diri karena putus cinta. Wanita/pria di dunia ini masih banyak, kenapa hanya karena 1 orang itu kita harus mengakhiri hidup yang sangat berharga ini?
Berharga di sini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi orang lain yang menyayangi kita. Terutama orang tua yang sudah bersusah payah membesarkan kita. Karena bukan perkara yang mudah buat mereka untuk membesarkan kita.
Saya sendiri ikut berduka atas kematian mereka yang memutuskan bunuh diri. Tapi di sisi lain, saya ingin tertawa atas tindakan yang mereka lakukan. Terutama yang modusnya karena percintaan.
Kita bisa melihat, di luar sana banyak sekali orang-orang yang berjuang keras untuk menyambung hidup mereka. Tidak sedikit dari mereka yang kondisi fisiknya memiliki kekurangan. Tapi mereka tidak berpikir menyia-nyiakan hidupnya begitu saja. Lalu kenapa orang yang seharusnya bersyukur bisa hidup lebih baik dari mereka, lantas memutuskan bunuh diri hanya karena putus cinta?

Jumat, 07 Oktober 2011

PEMANFAATAN BAHASA INDONESIA PADA TATARAN SEMI ILMIAH


Tataran semi ilmiah merupakan suatu penulisan yang tidak terikat Bahasa Indonesia baku secara lisan, sehingga kemungkinan besar terjadinya penghilangan kalimat. Namun, ini tidak mengurangi kadar kebakuannya. Walaupun demikian ketepatan dalam pilihan kata dan pola kalimat serta kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat mempengaruhi dalam memahami makna gagasan. Contoh : artikel dan editorial.

PEMANFAATAN BAHASA INDONESIA PADA TATARAN NON ILMIAH


Berbeda dengan tataran ilmiah, bahasa Indonesia dalam tataran non ilmiah sangat bervariasi. Mulai dari topik hingga cara penyajiannya, hanya saja isinya tidak didukung fakta yang dapat di buktikan kebenarannya. Karena kebanyakan ditulis berdasarkan fakta/pengalaman pribadi. Biasanya tidak bersifat objektif tp subyektif. Gaya bahasanya bisa abstrak,  formal dan popular. Karya non ilmiah bersifat emotif, persuasif, deskriptif, kritik tanpa dukungan bukti.

PEMANFAATAN BAHASA INDONESIA PADA TATARAN ILMIAH



Bahasa Indonesia dalam tataran ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi  yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan gaya bahasa yang tinggi dan menyajikan fakta dengan metode penulisan yang benar. Biasanya di pakai dalam pembuatan karya ilmiah dan dapat dibuktikan kebenarannya karena isinya merupakan pembahasan dari suatu penelitian yang objektif.

Jumat, 30 September 2011

Menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar



Yang terbaik dalam menggunakan bahasa adalah yang baik dan benar. Tapi tidak semua orang bisa mengerti maksud dari menggunakan bahasa baik dan benar secara tepat, karena banyak yang menganggap dengan menggunakan bahasa baku sama dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar.  Padahal pengertian sebenarnya adalah :
·         Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi dan di tujukan kepada siapa . Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karena itu, gaya bahasa yang digunakan harus sesuai. Contohnya saat kita berbicara dengan teman pasti tidak akan menggunakan bahasa baku, tetapi bahasa non baku. Karena pada kenyataannya semakin tidak benar bahasa yang digunakan sewaktu menulis atau berbicara, berarti semakin akrab hubungan kita dengan lawan bicara.
·         Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan  ejaan yang disempurnakan (bahasa baku).  Baik secara tertulis maupun lisan. Bahasa baku biasanya digunakan pada komunikasi resmi, wacana teknis (makalah, skripsi, dsb), pembicaraan di depan umum, berbicara dengan orang yang kita hormati. Contoh : acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.


Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi

Menurut Keraf (1997:3), pada dasarnya bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol social.
Saat kita memiliki tujuan tertentu, pasti kita akan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk mencapai tujuan tersebut. Karena untuk mencapai tujuan tersebut kita harus berinteraksi dengan orang lain.
Dalam berkomunikasi, pasti kita akan sering mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Yaitu bahasa yang hanya di mengerti orang-orang tertentu saja. Misalnya, kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.

Jumat, 03 Juni 2011

Penjelasan dan Ciri-ciri dari Jenis Pasar

I. Pasar persaingan sempurna (perfect competition)
   Adalah sebuah jenis pasar dengan jumlah penjual dan pembeli yang sangat banyak dan produk yang dijual bersifat homogen. Harga terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga penjual dan pembeli di pasar ini tidak dapat memengaruhi harga dan hanya berperan sebagai penerima harga (price-taker). Barang dan jasa yang dijual di pasar ini bersifat homogen dan tidak dapat dibedakan. Semua produk terlihat identik. Pembeli tidak dapat membedakan apakah suatu barang berasal dari produsen A, produsen B, atau produsen C? Oleh karena itu, promosi dengan iklan tidak akan memberikan pengaruh terhadap penjualan produk.

Ciri-ciri pasar persaingan sempurna :
1. Perusahaan adalah pengambil harga 
2. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk 
3. Menghasilkan barang serupa 
4. Terdapat banyak perusahaan di pasar
5. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar


II. Pasar monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual)
     Adalah suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai "monopolis".
Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk tersebut atau —lebih buruk lagi— mencarinya di pasar gelap (black market).

Ciri-ciri pasar monopoli :
1. hanya ada satu produsen yang menguasai penawaran
2. tidak ada barang subtitusi/pengganti yang mirip (close substitute)
3. produsen memiliki kekuatan menetukan harga
4. tidak ada pengusaha lain yang memasuki pasar tersebut karena ada hambatan berapa keunggulan perusahaan.


III. Pasar persaingan monopolistis
      Pada dasarnya adalah pasar yang berada di antara dua jenis pasar yang ekstrem, yaitu persaingan sempurna dan monopoli. Oleh sebab itu sifat-sifatnya mengandung unsur-unsur sifat pasar monopoli dan unsur-unsur sifat pasar persaingan sempurna. Pasar persaingan monopolistis dapat didefinisikan sebagai suatu pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (Sukirno, 2003: 298) .

Ciri-ciri pasar persaingan monopolistis ( Sukirno, 2003: 298) :
1. Terdapat banyak penjual.
2. Barang berbeda corak.
3. Perusahaan mempunyai sedikit kekuasaan mempengaruhi harga .
4. Mudah bagi suatu perusahaan untuk keluar masuk ke pasar.
5. Persaingan mempromosi penjualan sangat aktif. 


IV. Pasar oligopoli
      Adalah adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga di antara pelaku usaha yang melakukan praktik oligopoli menjadi tidak ada.
Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel, sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebagiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel



Ciri-ciri pasar Oligopoli : 
1. Terdapat banyak pembeli di pasar.
2. Hanya ada beberapa perusahaan(penjual) yang menguasai pasar.
3. Umumnya adalah penjual-penjual (perusahaan) besar yang memiliki modal besar saja (konglomerasi).
4. Produk yang dijual bisa bersifat sejenis, namun bisa berbeda mutunya.
5. Adanya hambatan bagi pesaing baru.
6. Adanya saling ketergantungan antar perusahaan (produsen).
7. Advertensi (periklanan) sangat penting dan intensif.

Sumber :
1. http://id.wikipedia.org/
2. http://echiicung13.blogspot.com/2010/12/ciri-ciri-pasar-oligopoli.html
3. http://prabusetiawan.blogspot.com/2009/06/pasar-persaingan-monopolistis.html

Jenis-jenis Elastisitas

 Elastisitas ada 2, yaitu :
1. Elastisitas Permintaan
2. Elastisitas Penawaran


1.  Elastisitas Permintaan

Jenis-jenis Elastisitas Permintaan
• Tidak elastis sempurna : Ed = 0
• Inelastik : 0 < Ed < 1
• Elasisitas uniter : Ed = 1
• Elastis : 1< Ed < ¥
• Elastis sempurna : Ed = ¥












Faktor Penentu Elastisitas Permintaan:
• Banyaknya pangan pengganti yang tersedia:
   – Semakin banyak jenis pangan pengganti yang tersedia maka semakin elastis sifat permintaannya
• Persentase pendapatan yang akan dibelanjakan untuk membeli pangan tersebut:
   – Semakin besar bagian pendapatan yang diperlukan untuk membeli suatu pangan maka semakin elastis permintaan terhadap pangan itu
• Jangka waktu di dalam mana permintaan itu dianalisis
   – Semakin lama jangka waktu dimana permintaan itu dianalisis, maka semakin elastis sifat permintaan suatu pangan.


2. Elastisitas Penawaran













Faktor-Faktor yang mempengaruhi Elastisitas Penawaran:
• Sifat Perubahan Biaya Produksi
  – Biaya tinggi : tidak elastis
  – Biaya rendah : elastis
• Jangka waktu di dalam mana penawaran itu dianalisis:
  – Amat singkat : tidak elastis sempurna
  – Jangka pendek : inelastis
  – Jangka pangjang : elastis


Sumber : http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/11/5-elastisitas.pdf